Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Tuesday, 29 October 2013

Doa-Doa Melancarkan Rezeki Dalam Al-Qur’an dan Hadits

 

A.    Doa Melancarkan rezeki dalam Al-Qur’an
1.      Doa memohon limpahan rezeki
﴿اَللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ﴾
Artinya :
 “Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang orang yang bersama kami dan yang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan engkau, beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling utama.” (QS. Al-Maidah/5: 114)
2.      Doa agar diberi kedudukan yang mulia
﴿رَّبِّ أَنْزِلْنِيْ مُنْزَلًا مُّبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ﴾
Artinya :
 “Ya Allah, tempatkan aku di tempat yang berkah, dan Engkau adalah sebaikbaik pemberi  tempat.” (QS. AlMu’minûn/23: 29)

Do’a diatas baik dibaca bagi setiap orang yang menginginkan kedudukan (pangkat, jabatan, atau kedudukan). Karena do’a tersebut adalah do’anya Nabi Nuh as. ketika berada di atas perahu. Ia memohon kepada Allah SWT. agar diberi kedudukan yang lebih mulia daripada kedudukan sebelumnya. Kemudian Allah SWT. mengabulkan do’anya, dan menjadikannya umat yang taat kepada Tuhannya.
3.      Doa Memperoleh Pekerjaan dan Jodoh
﴿...رَبِّ اِنِّيْ لِمَا اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ﴾
Artinya :
“Ya, Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qasas/28: 24)
Do’a ini dibaca oleh Nabi Musa as. dan dengan do’a beliau ini ia diberi pekerjaan dan jodoh dari wanita yang shalih.
4.      Doa mohon ampunan dan keluasan rezeki

﴿رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكاً لَا يَنْبَغِيْ لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِى إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ﴾
Artinya :
"Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi."  (QS.  Shaad/38: 35)
5.      Doa Mensyukuri Nikmat
﴿رَبِّ أَوْزِعْنِيْ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأنْ أعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ﴾
Artinya :
“Ya Allah, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan untuk (selalu) mengerjakan amal soleh yang Engkau ridhai, serta masukkan aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hambahambaMu yang soleh. (QS. AnNaml: 19)

Do’a diatas adalah do’a yang dibaca sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas semua nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita dan juga sebagai jalan menambah karunia-Nya atas sikap syukur kita kepada-Nya. Do’a ini pula yang dibaca oleh Nabi Sulaiman as. dalam menyukuri nikmat Allah.
……رَبِّ أَوْزِعْنِيْ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِيْ فِي ذُرِّيَّتِيْ إِنِّيْ تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Artinya: …….."Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. Al-Ahqâf: 15)
Penjelasan:
Do'a diatas dibaca oleh orang-orang mukmin yang jujur agar mereka diberi ilham untuk tetap mensyukuri nikmat, berbakti kepada orang tua, beramal shalih, diberi keturunan yang mulia dan tobatnya diterima Allah SWT.


B.     Do’a Melancarkan rezeki dalam Hadits
1.      Doa minta kecukupan rezeki
اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
Artinya :
Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal,  sehingga aku tidak memerlukan yang haram,  dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.” (HR. Ahmad)
2.      Doa agar terlepas dari jeratan hutang
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, pada suatu hari Rasulullah saw. hendak memasuki masjid. Ketika itu beliau mendapati seorang sahabat dari Anshar yang bernama Abu Umamah yang sedang duduk merenung di dalam masjid. Rasulullah saw. bersabda: “Ada apakah gerangan engkau duduk di dalam masjid ketika bukan waktu shalat?” Dia menjawab “Kegelisahan dan pikiran atas hutang yang selalu menyelimutiku wahai Rasul.” Beliau berkata “Maukah aku ajarkan perkataan yang apabila engkau ucapkan maka Allah Azza wa Jalla akan menghilangkan kegelisahanmu dan melunaskan hutang-hutangmu?” Ia menjawab “Iya ya Rasulullah” kemudian Rasul bersabda “Apabila kamu berada di pagi dan sore hari maka ucapkanlah :
اَللّٰهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزْنِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ.    
Artinya :
“Ya Allah aku berlindung kepa-Mu dari  kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil dan aku berlindung kepada-Mu dari terlilit hutang dan pemaksaan dari orang lain.” (HR. Abu Dawud)
Dan Abu Umamah berkata : “Kemudian aku melaksanakannya dan ternyata Allah Azza wa Jalla menghilangkan kegundahanku dan melunaskan hutang-hutangku.” (HR. Abu Dawud)
3.      Doa agar menghilangkan kefakiran dan melunaskan hutang
اللّٰهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْـمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةَ وَالإِنْجِيْلَ وَالقُرْآنَ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَالظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَالْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنِّي الدَّيْنَ وَاغْنِنِيْ مِنَ الْفَقْرِ.
Artinya :
“Ya Allah, Tuhan bagi tujuh lapisan langit, juga Tuhan ‘Arasy yang agung. Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Yang menurunkan Taurat, Injil dan Quran. Yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menghasilkan buah-buahan. Aku mohon berlindung denganMu daripada kejahatan segala suatu yang jahat yang ubun-ubunnya di dalam genggaman-Mu. Engkaulah yang awal, tiada suatu pun yang sebelum Engkau. Engkaulah yang akhir, tiada suatu pun yang selepas Engkau. Engkaulah yang zahir, tiada suatu pun yang di atas Engkau. Engkaulah yang batin, tiada suatu pun yang di bawah Engkau. Tunaikanlah hutangku dan berilah aku kekayaan daripada kefakiran.” (HR. At-Tirmizi dan dinilai Hasan Sahih).

4.      Doa Agar Hajat Dikabulkan Allah

اَللّٰهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَ لَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، لَا يَنْفَعُ ذَى الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ (رواه البخارى)
Artinya :
“Ya Allah, tidak ada yang bisa mencegah jika Engkau akan memberi dan tidak ada yang mampu memberi jika Engkau mencegahnya. Tidaklah bermanfaat nasib baik itu untuk menyelamatkan dari siksaMu. (HR. Bukhari)

5.      Doa Mudah Rezeki dan Terhindar Dari Kekufuran
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ
Artinya :
 “Ya Allah, aku berlindung dari kekufuran, kemiskinan dan siksa kubur.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Abi Syaibah)

6.      Doa Keselamatan Diri, Keluarga Dan Harta
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِـرَةِ، اَللّٰهُمَّ إنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ، اَللّٰهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ

Artinya :
 “Ya Allah, aku mohon kebaikan dunia dan akhirat, Ya Allah, aku mohon ampun dan kebaikan dalam agama, dunia, keluarga, dan, dan hartaku. Ya Allah, tutuplah aibku dan berilah aku rasa aman dari semua ketakutan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i, Ibnu Majah. Hakim men-sahihkannya)

Saturday, 28 September 2013

Khidmat Masyarakat

Assalamualaikum w.b.t/لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُl

Memohon jasa sahabat2 semua yang ternampak anak kecil ini,yang berumur 6 tahun sila berhubung dengan peguam syarie,Puan Nurjannah ditalian 0125710777 bagi menjamin masa depan anak ini.

 

BANTUAN AISYA

 

 

.

Tuesday, 8 January 2013

Doa Ketika Angin Bertiup Kencang

Pergerakan angin merupakan sebahagian dari tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seringkali angin bertiup sepoi-sepoi bahasa dan menyamankan. Ada kalanya juga kencang dan berlaku ribut sehingga menimbulkan sesuatu yang tidak kita suka. Ini semua berlaku dengan qadha dan qadar Allah’ Azza wa Jalla. Tentunya dengan hikmah yang Allah kehendaki. Oleh sebab itu tidak layak jika seorang muslim mencaci angin yang dicipta dan diutuskan-Nya kerana angin itu makhluk Allah SWT dan tunduk kepada perintah-Nya.

 

Tiupan Angin

Angin terbagi dalam dua jenis. Pertama, angin yang bertiup tenang dan membawa banyak manfaat kepada kehidupan manusia sewajarnya disyukuri atas nikmat-Nya itu.

.

Allah Ta’ala berfirman;

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴿٥٧

“Dan Dia lah (Allah) yang menghantarkan angin sebagai pembawa berita yang mengembirakan sebelum kedatangan rahmatnya (iaitu hujan), hingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halakan dia ke negeri yang mati (ke daerah yang kering kontang), lalu Kami turunkan hujan dengan awan itu, kemudian Kami keluarkan dengan air hujan itu berbagai-bagai jenis buah-buahan. Demikianlah juga Kami mengeluarkan (menghidupkan semula) orang-orang yang telah mati, supaya kamu beringat (mengambil pelajaran daripadanya).” (QS. Al-A’raf: 57)

.

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۚوَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا ﴿٤٨

“Dan Dia lah Tuhan yang menghantarkan angin sebagai berita gembira sebelum kedatangan rahmatNya, dan Kami menurunkan dari langit: air yang bersih suci.” (QS. Al-furqan: 48)

.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَن يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُم مِّن رَّحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿٤٦

“Dan di antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaanNya, bahawa Ia menghantarkan angin sebagai pembawa berita yang mengembirakan; dan untuk merasakan kamu sedikit dari rahmatNya, dan supaya kapal-kapal belayar laju dengan perintahNya, dan juga supaya kamu dapat mencari rezeki dari limpah kurniaNya; dan seterusnya supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Ruum: 46)

.

فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ ﴿٣٦

“Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya.” (QS. Shaad: 36)

.

.

Doa Angin Kencang

.

Angin ribut yang bertiup kencang sehingga menimbulkan ketakutan, menumbangkan pepohonan, merobohkan bangunan, dan semisalnya. Kita dilarang mencacinya, kerana tidaklah menciptakan angin, mengutusnya, dan menentukan bentuk bertiupnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada seorang pun yang mampu mengendalikan angin kecuali penciptanya, iaituAllah ‘Azza wa Jalla.

.

Angin kencang bertiup demikian dengan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi disyariatkan mengucapkan zikir dan doa kepada Allah seperti yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

.

Daripada Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata: Adalah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam apabila angin bertiup kencang Baginda berdoa; “Ya Allah sesungguhnya daku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang dibawanya. Dan daku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya dan keburukan yang dibawanya.“ (HR. Muslim r.a.)

.

”Allahumma Innii As’aluka Khairaha  wa Khaira Maa Fiihaa wa Khaira Maa Ursilat  Bihi wa ’Udzu Bika Min Syarriha wa Syarri Maa Fiihaa wa Syarri Maa Ursilat Bihi”

.

Dari Ubai bin Ka’ab, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Janganlah kamu mencaci angin. Lalu apabila engkau melihat yang tidak menyenangkan, maka berdoalah:

اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحَ وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحَ وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang dibawanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya dan keburukan yang dibawanya.” (HR. Al-Tirmidzi)

.

.

Doa Angin Kencang (Beramai-Ramai)

.

.

Apabila Dikhuatiri Angin Ribut Akan Merbahayakan

Asy-Syafi’i r.a. menerangkan, apabila terjadi angin kencang, Rasulullah SAW selalu duduk berlutut dan membaca doa di bawah:

.

.

.

Janganlah Mencela Hujan

Kata-kata celaan dari seorang muslim terhadap angin tidak ada manfaatnya sama sekali, dan tentu saja akan masuk dalam catatan amal yang buruk kerana Allah berfirman:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ ﴿١٨

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang sentiasa hadir.” (QS. Qaaf;50: 18)

.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Janganlah kamu mencaci-maki angin.” (HR. Tirmidzi r.a.)

Mencaci-maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang dicipta Allah adalah dilarang. Larangan ini boleh termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang buruk yang terjadi, dan bukannya meyakini bahawa Allahlah yang mentakdirkannya

Semoga Allah SWT sentiasa melindungi kita dari banyak mencela dan memelihara kita agar lidah banyak bersyukur kepada-Nya atas kurniaan angin ini.

.

.

والله أعلم بالصواب

Wallahu A’lam Bish Shawab

(Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)

.

Pandai Memasak Juga Sunnah



Umum diketahui Saidatina Khadijah r.a. pandai memasak dan menguruskan suaminya, Rasulullah SAW. Begitu juga Saidatina Aisyah r.a. Jadi, dengan kata lain, jika nak jadi wanita yang solehah, memasak itu perlu tahu samada asas atau expert dalam menguruskan rumahtangga. Namun dicatatkan juga dalam sirah, Nabi SAW adalah seorang suami yang suka menolong isteri-isterinya memasak di dapur. Jika Nabi SAW tidak pandai memasak, mustahil Nabi SAW mampu membantu isterinya. Nabi SAW biasa hidup berdikari tanpa ibu dan ayah. Mustahil Nabi SAW menyusahkan orang lain dengan pekertinya yang mulia. Jadi, tidak mustahil Nabi SAW pandai memasak. Secara logiknya begitulah.
Rasulullah SAW juga manusia biasa, namun bukan suami biasa
Amrah meriwayatkan bahawa seseorang bertanya kepada Aisyah, "Apakah yang dilakukan Rasulullah saw di dalam rumah?" Aisyah menjawab, maksudnya: "Rasulullah saw adalah manusia biasa; beliau merendam pakaian, memerah susu domba, dan melayani dirinya sendiri." (HR Tirmizi, Bukhari, dan Ahmad)
Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah SAW menampalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Baginda juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga mahupun untuk dijual. Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap dimasak untuk dimakan, sambil tersenyum Baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Saidatina 'Aisyah r.a. menceritakan: "Kalau Nabi SAW berada di rumah, Baginda selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, Baginda cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sembahyang."
Pernah Baginda pulang pada waktu pagi. Baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada kerana 'Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira adalah panggilan mesra Aisyah yang bererti kemerah-merahan) Aisyah menjawab dengan agak serba salah, "Belum ada apa-apa, wahai Rasulullah." Rasulullah SAW lantas berkata, "Kalau begitu aku puasa saja hari ini." Tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya. Itu Rasulullah SAW. Kalau kita, tentu dah hangin atau hilang sabar, mengeluh-ngeluh, bercakap tentang duit dan macam-macam lagi.
Bahan-bahan dapur Rasulullah SAW
Tapi, bahan-bahan di dapur Rasulullah SAW tidak se'mewah' bahan-bahan masakan seperti di dapur kita. Aisyah r.a. meriwayatkan bahawa di rumah Rasulullah SAW pernah tidak dinyalakan api untuk memasak makanan selama tiga bulan. Kemudian, hingga wafat Rasulullah SAW tidak pernah kenyang memakan roti dan minyak dua kali dalam sehari. Manakala makanan-makanan asasi rumahtangga Rasulullah SAW, Aisyah r.a. mengatakan, "Dua bahan makanan, iaitu air dan kurma, di samping ada seorang tetangga Rasulullah dari kaum Ansar yang memiliki binatang perahan. Mereka selalu memberi susu dan kami meminumnya."
Moral:
Belajarlah memasak samada lelaki dan perempuan jika nak kekalkan kebahagiaan rumahtangga atau untuk menimbulkan kasih mesra antara suami isteri. Jika tak pandai masak pun, tolong-tolonglah isteri masak. Tolong angkat periuk ke kuali ke, basuh pinggan mangkuk ke. Sebab itu semua sunnah. Buat yang sunnah dapat pahala. Pahala dapat, kasih bertambah. Untung berganda-ganda.

Wednesday, 19 December 2012

Kahwin Paksa

Assalamualaikum,

Apabila terbaca satu  status oleh adik Saifudin tentang :

Ada ustazah kata kahwin paksa ni paling2 menangis seminggu kemudian nanti suka juga dengan suaminya... Jangan menafikan kerahmatan dalam islam. Bukakanlah seluas-luasnya khabar kerahmatan dan keadilan di dalam islam !

maka terpanggil untuk mengarang dan berkongsi maklumat dengan sahabat-sahabat semua.

 

Istilah ' kahwin paksa ' ini hanya khusus untuk bakal pengantin wanita sahaja. Sebab dia yang terpaksa berkahwin atas pilihan keluarga, walaupun mungkin sudah ada pilihan sendiri. Dalam isu ini, mungkin gadis dikahwinkan oleh bapa atau datuknya sendiri yang memang bertaraf Wali Mujbir.

Bagi pengantin lelaki pula, tidak layak dipanggil kahwin paksa kerana kalau dia sendiri melafazkan " Aku terima nikahnya si fulanah binti fulan , dengan mas kahwin sebanyak RM..... Tunai ", bermakna dia sendiri dah redho dan terima perkahwinan itu. Kalau dia sendiri dah terima, bermakna setujulah tu. Apa yang ada dalam hatinya, Wallahua'lam.

Bagaimana pun, ada beberapa khilaf dan pendapat ulama mengikut mazhab. Dan isu ini telah dibahaskan oleh fuqaha’ sejak dahulu lagi. Perbahasan mereka dapat diikuti dalam kitab-kitab fiqh pelbagai mazhab. Perbahasan yang dilakukan meliputi segenap aspek yang berkaitan dengan perwalian (wilayah) dalam urusan perkahwinan seperti siapa yang layak menjadi wali, hak dan tanggungjawab wali, susunan wali, jenis-jenis wali dan lain-lain. 

Pertama: Mazhab Syafie.

Dalil yang dipegang ialah sabda Rasulullah yang bermaksud: “Wanita yang janda lebih berhak ke atas dirinya daripada walinya. Dara pula dinikahkan oleh ayahnya”. [ Ad-Daru Qutniy ]

Walau bagaimanapun, keharusan ini dengan bersyarat, iaitu,

1- Wali yang menikahkan itu ayah kandung kepada gadis tersebut atau datuknya. Wali yang lain daripada kedua-duanya tidak boleh menikahkannya tanpa izin daripadanya. 2- Tidak ada permusuhan yang nyata dan ketara antara kedua-duanya (ayah dengan anak yang dinikahkan itu)

3- Lelaki yang dipilih oleh wali sekufu atau sepadan dengan anaknya.

4- Mahar yang ditetapkan tidak lebih rendah daripada wanita lain yang sama taraf serta kedudukan dengan gadis tersebut. Sekiranya mahar dalam bentuk wang, ia mestilah dengan mata wang tempatan.

5- Lelaki yang dinikahkan dengan anaknya mestilah mampu membayar maharnya.

6- Lelaki yang dinikahkan itu bukan terdiri daripada orang yang menyusahkan gadis tersebut seperti orang buta, kurang upaya atau terlalu tua.

7- Ketika pernikahan dilakukan, gadis tersebut tidak termasuk dalam golongan mereka yang telah diwajibkan haji ke atasnya (sihat, mempunyai perbelanjaan yang cukup, aman perjalanan dan ditemani mahram).

Syarat-syarat di atas, sebahagiannya adalah syarat sah nikah dan sebahagiannya syarat mengharuskan pernikahan dilakukan. Syarat 1, 2 dan 5 adalah syarat sah. Sekiranya wali menikahkan anaknya tanpa syarat tersebut maka pernikahan itu tidak sah.

Kedua: Mazhab Hambali

Menurut Ibn Qudamah, ada dua riwayat daripada Imam Ahmad, satu riwayat menyebut bahawa wali harus menikahkan anak gadis yang sudah baligh tanpa izinnya dan riwayat kedua mengatakan tidak harus. Riwayat yang mengatakan harus berpegang kepada hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang bermaksud: “Janda lebih berhak ke atas dirinya daripada walinya, manakala anak dara diminta izin daripadanya. Dan keizinannya ialah diamnya.” [ Muslim dan Abu Daud ].

Menurut pendapat ini, wali yang boleh menikahkan seseorang gadis tanpa izinnya adalah ayah kandung kepada gadis itu atau penerima wasiatnya (wasi). Selain mereka berdua adalah tidak harus, hatta datuk atau bapa saudaranya. Dan disunatkan bagi wali meminta izin daripada anak gadis yang ingin dinikahkan sejajar dengan saranan Rasulullah dalam hadis di atas. 

Di samping itu, disunatkan juga meminta pandangan ibu gadis tersebut kerana rapatnya hubungan antara ibu dengan anak perempuannya, dan ibu juga sama dengan ayah dari segi memikirkan jodoh serta kebahagiaan rumah tangga anaknya. Dengan cara itu, hak ibu tidak diketepikan dan hatinya akan lebih bahagia. 

Ibn Umar berkata bahawa Rasulullah bersabda (maksudnya), “Mintalah pandangan kaum wanita tentang anak-anak perempuan mereka.” [ Riwayat Abu Daud ]. Sekiranya gadis tersebut sudah mempunyai pilihan sendiri yang sekufu dengannya, maka pilihannya diutamakan. Imam Ahmad berkata, pernikahan adalah hak peribadinya yang khusus. Maka wali atau wasi (penerima wasiat) tidak wajar memaksa gadis berkahwin dengan lelaki yang tidak disukainya. Sekiranya wali enggan menikahkan anaknya yang berusia sembilan tahun (yang sudah baligh dan berakal) atau lebih dengan lelaki pilihannya, maka wali dianggap ‘adhil (ingkar) dan gugur haknya sebagai wali. Jika berlaku berulang kali, maka dia menjadi fasiq.

Ketiga: Mazhab Maliki

Seorang ayah yang siuman dan matang harus menikahkan anak gadisnya yang baligh dan berakal walaupun dengan mahar yang kurang daripada yang sepatutnya atau yang sepadan dengannya. Contohnya, jika mahar yang sepadan dengannya (mahar mithil) adalah satu pikul emas, tetapi wali menikahkannya dengan mahar satu suku dinar, ia tetap sah. 

Wali harus menikahkan anaknya dengan lelaki yang lebih rendah tarafnya atau yang buruk rupanya atau lelaki yang tidak disukainya, sama ada anaknya memberi izin atau tidak selama mana anaknya itu masih dara walaupun usianya sudah lanjut dan telah menjangkau 60 tahun. Namun begitu sekiranya anak dara itu seorang yang dilihat matang oleh wali dan dia memberinya kebebasan untuk memilih, maka dalam keadaan ini wali tidak harus memaksanya. Wali tidak harus menikahkannya tanpa keizinan yang jelas daripada anaknya.

Perlu disebutkan bahawa keharusan memaksa hanya ketika pada kebiasaannya tidak timbul mudarat yang ketara dengan sebab perkahwinan itu. Sekiranya perkahwinan itu boleh membawa mudarat seperti dikahwinkan dengan lelaki yang cacat, gila, mati pucuk dan seumpamanya, maka tiada hak bagi wali memaksa anaknya.

Hak untuk memaksa ini hanya khusus bagi ayah dan wasi sahaja, dan tidak harus bagi selain kedua-duanya.

Keempat: Mazhab Hanafi

Wali, sama ada ayah atau selainnya tidak berhak langsung menikahkan seorang gadis yang telah baligh dan berakal kerana gadis itu telah menjadi seorang mukallaf yang bertanggungjawab penuh ke atas dirinya dalam melaksanakan tuntutan hukum syarak. Dia berhak mengendalikan sendiri urusan peribadinya. 

Tiada seorang pun yang boleh menguasainya dan memaksanya. Dia juga boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa perlu mendapat keizinan walinya atau menyerahkan kepada wali melaksanakan akad nikah bagi pihak dirinya. Dia harus mengakad nikah dirinya sendiri, tidak kira sama ada lelaki itu sekufu dengannya atau tidak, dan dengan mahar yang sepadan atau tidak. 

Dia berhak sepenuhnya mengendalikan urusan dirinya. Tiada seorang pun yang berhak menghalangnya. Antara nas yang menjadi dalil mazhab Hanafi ialah peristiwa yang diceritakan oleh Ibn Abbas bahawa seorang gadis menemui Rasulullah menyatakan bahawa ayahnya telah menikahkannya sedangkan dia tidak suka. Maka baginda memberinya hak untuk memilih sama ada ingin memfasakh pernikahan itu atau tidak. 

Nasihat peribadi saya, kalaulah ada di luar sana pasangan yang pernah melalui situasi kahwin paksa ini, tetapi ternyata pernikahan itu diuruskan menurut prosedurnya yang sah dan dikendalikan oleh Jurunikah yang bertauliah, bererti pernikahan itu sah dan mereka memang bergelar suami isteri. Tapi, soal hati tiada siapalah yang tahu. Walau pengantin lelaki cuba juga menerima si isteri dengan rela hati, tetapi rasa cinta, kasih dan mahabbah itu, tetap juga tidak wujud, maka pada pandangan saya, wajarlah si suami itu melepaskan isterinya itu dengan cara yang terbaik. 

Jangan diseksa perasaan dan jiwa si isteri dengan tindakan-tindakan yang tidak diizinkan syara'. Anjuran saya ini berdasarkan firman Allah, “Talak (yang boleh dirujuk kembali itu hanya) dua kali. Sesudah itu bolehlah ia (rujuk dan) memegang terus (isterinya itu) dengan cara yang sepatutnya atau melepaskan (menceraikannya) dengan cara yang baik. Dan tidaklah halal bagi kamu mengambil balik sesuatu dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka (isteri-isteri yang diceraikan itu), kecuali jika keduanya (suami isteri) takut tidak dapat menegakkan aturan-aturan hukum Allah. Oleh itu kalau kamu khuatir bahawa kedua-duanya tidak dapat menegakkan aturan-aturan hukum Allah, maka tidaklah mereka berdosa - mengenai bayaran (tebus talak) yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya (dan mengenai pengambilan suami akan bayaran itu). Itulah aturan-aturan hukum Allah maka janganlah kamu melanggarnya; dan sesiapa yang melanggar aturan-aturan hukum Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. [ Al-Baqarah: 229 ] 

Wallahhua'lam..